Minggu, 23 Mei 2010

Tanggung Jawab Ilmuan


Etika dan tanggung jawab Ilmu Pengetahuan
            Perkembangan ilmu pengetahuan telah berhasil menyediakan segala kebutuhan hidup sehari-hari manusia dan mendorong pergeseran moralitas dan kehidupan manusia. Kondisi yang demikian diiringi dengan perkembangan mentalitas dan sikap manusia yang makin materialistis. Cukup sandang pangan bukan lagi menjadi arah kegiatan untuk mencapai kebahagiaan hidup, tetapi arah tersebut telah bergeser untuk mengumpulkan kekayaan dan harta sebanyak-banyaknya. Kebahagiaan manusia telah berubah menjadi berlimpahnya barang nyata yang berupa limpahan materi.
            Manusia memang berperawakan labil, sehingga dengan adanya kemajuan teknologi, manusia mengalihkan perannya dari “alat hidup” menjadi “tujuan hidup”. Harta (uang) menjadi segala-galanya bagi manusia. Bahkan tak jarang manusia terseret dalam keampuhannya, sehingga tingkah laku tamak, serakah, zalim dan sebagianya mewarnai jiwa setiap manusia. Kecenderungan ilmu pengetahuan yang tidak lagi sesuai dengan arti dan fungsinya tersebut, lebih dijunjung sebagai pengangkat “Dewa” martabat dan derajat pribadi manusia.
            Kondisi ini diperparah dengan kemajuan dunia yang memasuki era modernisasi dan globalisasi, yang mana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu cepat. Kejadian atau peristiwa yang terjadi dalam suatu belahan dunia, dalam hitungan detik dapat diketahui di belahan dunia lain dalam hitungan detik pula. Pengaruh gebyarnya kehidupan dapat memasuki ranah kehidupan wilayah lain dengan cepat dan tanpa ada sekat yang menghalangi. Globalisasi yang berorientasi pada kehidupan materialistis telah mendera hampir di seluruh aspek kehidupan sosial, budaya, ekonomi, hingga praktik politik-ketatanegaraan. Hal ini telah mendorong manusia untuk semakin mantap dalam mencapai “tujuan” hidup dengan mengumpulkan dan memanifestasikan kekayaan sebagai “tujuan” hidup. Manifestasi kehidupan tersebut antara lain ditandai dengan munculnya gagasan tentang perdagangan bebas lin¬tas negara di seluruh dunia, dimana prinsip-prinsip etika trading kuno telah dilepaskan yang ditandai dengan munculnya korporasi-korporasi multinasional.
            Salah satu contoh adalah berafiliasinya beberapa negara dalam sebuah organisasi ekonomi regional demi penguatan posisi tawar dalam percaturan ekonomi global (Uni Eropa, misalnya). Organisasi tersebut mampu memupusnya sekat-sekat geografis-politis yang tegas (deteritorisasi) dalam praktik-praktik interaksi sosial karena kemutakhiran teknologi (lahirnya gadget canggih dan koneksi internet dengan tingkat kecepatan tinggi yang memapankan industri media). Munculnya homogenisasi rancangan arsitektur bercorak Barat pada kota-kota besar di seluruh dunia, hingga industri pariwisata global yang memiliki efek diffusi (persebaran) kebudayaan serta meningkatnya konsumsi pada tataran global dan label. Dalam realitanya, globalisasi mampu menjadi penentu arah perkembangan ilmu pengetahuan manusia di dunia. Dalam lingkup sosio-kultural yang lebih sempit, salah satu implikasi globalisasi ialah munculnya pola-pola baru dalam beragam bentuk dan tatanannya. Corak-corak baru yang demikian kerap disebut sebagai era pascaindustri, pascamodern, ataupun postmodern. Keadaan masyarakat yang demikian memiliki konsekuensi logis pada situasi yang menggiring kita sebagai “warga dunia”, untuk berpikir, berkeputusan, hingga bertindak dalam ritme yang relatif cepat, praktis dan pragmatis.

Tanggung jawab ilmuwan sosial
            Ilmu menghasilkan teknologi yang akan diterapkan pada masyarakat. Teknologi dalam penerapannya dapat menjadi berkah dan penyelamat bagi manusia, tetapi juga bisa menjadi bencana bagi manusia. Disinilah pemanfaatan pengetahuan dan teknologi diperhatikan sebaik-baiknya.
            Dihadapkan dengan masalah moral dan ekses ilmu dan teknologi yang bersifat merusak, para ilmuwan terbagi kedalam dua golongan pendapat, yaitu : Golongan yang berpendapat bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik itu secara ontologism maupun aksiologi. Dalam hal ini ilmuwan hanyalah menemukan pengetahuan dan terserah kepada orang lain untuk mempergunakannya, apakah akan digunakan untuk tujuan yang baik ataukah untuk tujuan yang buruk. Golongan ini ingin melanjutkan tradisi kenetralan ilmu secara total, seperti pada waktu era Galileo. Golongan yang berpendapat bahwa netralisasi ilmu hanyalah terbatas pada metafisika keilmuwan, sedangkan dalam penggunaannya haruslah berlandaskan nilai-nilai moral.
            Golongan ini mendasarkan pendapatnya pada beberapa hal, yakni :
- Ilmu secara factual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia, yang dibuktikan dengan adanya dus perag dunia yang mempergunakan teknologi keilmuwan.
- Ilmu telah berkembang dengan pesat dan makin esoteric hingga kaum ilmuwan lebih mengetahui tentang ekses-ekses yang mungkin terjadi bila terjadi penyalagunaan.
- Ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaan yang paling hakiki seperti pada kasus revolusi genetika dan teknik pembuatan social.
            Proses ilmu pengetahuan menjadi teknologi yang dimanfaatkan oleh masyarakat tidak terlepas dari ilmuwan. Seorang ilmuwan akan dihadapkan pada kepentingan-kepentingan pribadi ataukah kepentingan masyarakat akan membawa pada persoalan etika keilmuwan sertamasalah bebas nilai. Fungsi ilmuwan tidak berhenti pada penelaahan dan keilmuwan secara individual namun juga ikut bertanggung jawab agar produk keilmuwannya sampai dan dapat dimanfaatkan masyarakat.
            Ilmuwan mempunyai kewajiban sosial untuk menyampaikan kepada masyarakat dalam bahasa yang mudah dicerna. Tanggung jawab sosial seorang ilmuwan adalah memberikan perspektif yang benar: untung dan rugi, baik dan buruknya, sehingga penyelesaian yang objektif dapat dimungkinkan.
            Dengan kemampuan pengetahuannya seorang ilmuwan harus dapat mempengaruhi opini masyarakat terhadap masalah-masalah yang seyogyanya mereka sadari. Dalam hal ini, berbeda dengan menghadapi masyarakat, ilmuwan yang elitis dan esoteric, dia harus berbicara dengan bahasa yang dapat dicerna oleh orang awam. Untuk itu ilmuwan bukan saja mengandalkan pengetahuannya dan daya analisisnya namun juga integritas kepribadiannya.
            Seorang ilmuwan pada hakikatnya adalah manusia yang biasa berpikir dengan teratur dan teliti. Seorang ilmuwan tidak menolak atau menerima sesuatu secara begitu saja tanpa pemikiran yang cermat. Disinilah kelebihan seorang ilmuwan dibandingkan dengan cara berpikir orang awam.Kelebihan seorang ilmuwan dalam berpikir secara teratur dan cermat inilah yang menyebabkan dia mempunyai tanggung jawab sosial. Dia mesti berbicara kepada masyarakat sekiranya ia mengetahui bahwa berpikir mereka keliru, dan apa yang membikin mereka keliru, dan yang lebih penting lagi harga apa yang harus dibayar untuk kekeliruan itu.
            Dibidang etika tanggungjawab sosial seseorang ilmuwan bukan lagi memberi informasi namun memberi contoh. Dia harus tampil didepan bagaimana caranya bersifat obyektif, terbuka, menerima kritikan, menerima pendapat orang lain, kukuh dalam pendirian yang dianggap benar dan berani mengakui kesalahan. Tugas seorang ilmuwan harus menjelaskan hasil penelitiannya sejernih mungkin atas dasar rasionalitas dan metodologis yang tepat.
            Seorang ilmuwan secara moral tidak akan membiarkan hasil penelitian atau penemuannya dipergunakan untuk menindas bangsa lain meskipun yang memepergunakan bangsanya sendiri. Sejarah telah mencatat para ilmuwan bangkit dan bersikap terhadap politik pemerintahnya yang menurut anggapan mereka melanggar asas-asas kemanusiaan.
            Pengetahuan merupakan kekuasaan, kekuasaan yang dapat dipakai untuk kemaslahatan manusia atau sebaliknya dapat pula disalagunakan. Untuk itulah tanggung jawab ilmuwan haruslah “dipupuk” dan berada pada tempat yang tepat, tanggung jawab akademis dan tanggung jawab moral.
Intelektual dan Keilmuan          
            Kalau seorang ilmuwan berkutat hanya pada bidang ilmu pengetahuan yang digelutinya, dan yang karenanya terkesan sangat
terspesialisasi, tinggi dan tidak mengakar pada realitas sosial-budaya masyarakat dimana ia berada; saya rasa itulah ilmuwan yang benar. Tugas dan tanggung-jawab seorang ilmuwan pada hakekatnya adalah mengembangkan bidang ilmu pengetahuan yang digelutinya.
            Ada pun tugas untuk menerapkan atau membumikan ilmu pengetahuan itu agar bermanfaat bagi orang banyak, adalah tanggung jawab orang lain. Ia bisa menjadi tugas seorang teknolog, birokrat, atau–kalau mereka punyak “otak”–politisi.
            Kalau seorang ilmuwan–disamping tugas dan tanggung jawabnya mengembangkan bidang ilmu pengetahuan yang digelutinya–menaruh perhatian yang tulus, mendalam dan luas terhadap masalah-masalah sosial-budaya masyarakat dimana ia berada, maka itulah yang kita namakan intelektual.
            Andrei Sakharov–ilmuwan fisika Rusia–yang menaruh perhatian terhadap masalah-masalah demokrasi dan hak asasi manusia di Uni Soviet, adalah seorang intelektual. Dr. T. Yacob–ilmuwan antropologi ragawi–yang menaruh perhatian terhadap masalah-masalah kebudayaan di Indonesia, adalah seorang intelektual.
            Ada ilmuwan yang bisa dikategorikan sebagai intelektual. Tapi tidak semua ilmuwan–dan memang tidak harus–dikategorikan sebagai intelektual.
            Intelektual adalah seseorang yang menaruh perhatian yang tulus, mendalam dan luas terhadap masalah-masalah sosial-budaya masyarakat dimana ia berada. Disini perlu diberi penekanan terhadap kata “tulus”, karena tidak semua orang yang menaruh perhatian terhadap masalah-masalah sosial-budaya masyarakat boleh dikategorikan sebagai intelektual.

Tanggung jawab ilmuwan Muslim
1 Banyak ilmuwan muslim (terutama dalam hal ini yang akan dibahas adalah berkaitan dengan ilmuwan muslim di bidang sosial) yang tidak memiliki komitmen terhadap agama Islam.
            Ilmuwan tersebut menghabiskan hari-harinya dan bahkan hidupnya untuk mempelajari dan mengkaji ilmu yang disenangi, menarik hati dan mungkin pula memperoleh ketenaran serta mendapatkan bnyak uang, tapi tidak berminat atau kurang sekali minatnya untuk mengkaji Islam (Al-Quran dan Sunnah) yang berkaitan dengan ilmu yang digelutinya. Dalam sepekan belum tentu ada satu atau dua jam waktunya diperuntukkan untuk menelaah Islam, yang seharusnya menjadi pedoman hidupnya.
            Oleh karena itu, tidaklah mengherankan ketika mendapati ayat-ayat Al-Quran atau Hadits yang tidak sesuai dengan jalan pikiran atau ilmu yang dikuasai, maka ayat dan hadits tersebut ditolak atau paling tidak diragukan kebenarannya. Sebaliknya, paham atau konsep yang jelas-jelas bertentangan dan tidak dapat dibandingkan dengan Islam seperti feminisme, sekularisme, humanisme, liberalisme, postmodernisme, pluralisme dsb. malah dicari-carikan pembenaran dan dukungan dari agama Islam.

2. Banyak ilmuwan muslim yang berpikir dengan metode/cara berpikir orang barat yang kafir.
            Mereka memisahkan antara agama dan akhirat, antara ilmu dan perilaku, antara ilmu dan etika, antara agama dan ilmu, antara individu dan masyarakat nantara agama dengan sosial atau negara. Hal ini disebabkan karena mereka asal ikut saja terhadap pendapat yang dikatakan oleh pakar dari barat. Akibatnya mereka tidak akan dapat melebihi orang barat. Mereka akan selalu tergantung dengan barat serta pola berpikirnya. Apa-apa yang tidak sesuai dengan cara berpikir orang barat akan dikritik, diragukan atau bahkan ditolak.

3. Banyak ilmuwan yang tidak paham sejarah barat dan sejarah pemikiran orang-orang besar.

            Semestinya orang yang belajar sains sosial memahami mengapa timbul teori atau ide dari para ahli sosial zaman dahulu sejak zaman Yunani, zaman Renaissance sampai sekarang. Ingat bahwa pendapat sesorang pasti berkaitan dengan:

- Teologi agama Kristen di Barat
- Peran gereja di masyarakat pada masa itu
- Perang antar negara
- Kolonialisme
- Kebutuhan sosial masyarakat pada masa itu.

4. Karena tidak paham sejarah barat, banyak ilmuwan yang terjebak cara berpikir orang barat.

            Misalnya, banyak orang amat menyukai atau positivisme, reduksionisme, behaviorisme. Sebaliknya ada juga yang amat tidak suka dengan positivisme, sebagai gantinya mereka menganut hermeneutika atau kontruktivisme dll, sehingga semuanya dianggap relatif, tidak ada kebenaran absolut, bahkan manusia tidak mungkin memahami kebenaran atau kebenaran itu sendiri tidak ada. Namun mereka tidak paham mengapa timbul aliran-aliran tersebut dan latar belakang aliran pemikiran tersebut. Paham seperti humanisme, relativisme, pluralisme inklusivisme, liberalisme, demokrasi, HAM, feminisme, post-modernisme, sinkretisme dsb. telah menjadi anutan dan patokan mereka. Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi, sebagian ilmuwan muslim tidak menyadari pola pikirnya telah terjebak dan tersumbat dengan paham-paham sesat dari barat tersebut.

5. Banyak ilmuwan muslim tidak paham konsep pandangan dunia (worldview), asumsi hakikat                                    manusia maupun nilai-nilai sosial budaya barat.

            Nilai-nilai sosial budaya barat itu sendiri meliputi: tujuan hidup manusia, apa yang disebut manusia sukses, berguna dan baik, apa yang disebut masyarakat yang baik, dsb. Hal ini menyebabkan mereka hanya mengekor saja apa yang dikatakan atau ditulis orang barat. Banyak orang terpesona dan terkagum-kagum dengan "kemajuan" barat. Barat dianggap identik dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, pendidikan, kesehatran, kebebasan dan demokrasi.
            Namun jangan lupa, untuk meraih itu semua, barat harus menguras habis sumber daya yang dimiliki masyarakat lain sejak zaman dulu (kolonial) hingga sekarang, dengan perusahaan multi nasional (MNC) nya. Disamping itu, problem internal masyarakat barat semakin akut dan kronis. Meningkatnya jumlah orang yang depresi, stres, bunuh diri, pembunuhan, perampokan, pnyalahgunaan obat-obatan, pemerkosaan, perceraian, anak lahir di luar nikah, gay, lesbian dan semua penyakit sosial lain yang mengarah pada kehancuran peradaban dan masyarakat baat itu sendiri. Gereja-gereja semakin ditinggalkan, beralih pada fan lun gong, new age, spiritualisme, aliran pemuja setan, sinkretisme serta menciptakan agama-agama baru sesuai selera mereka sendiri.

6. Akhirnya banyak ilmuwan muslim yang tidak peduli apakah ilmu yang digelutinya ini benar/salah, sesuai dengan ajaran Islam/tidak.
            Menurut metode pendidikan model barat, tidak layak seorang ilmuwan memberikan penilaian benar atau salah terhadap apa yang dipelajarinya. Ilmuwan hanya menjelaskan fenomena yang terjadi atau konsep dan teori yang ada atau melakukan tinjauan kritis terhadapnya dan kemudian bila mampu, membangun pendapatnya sendiri. Namun tentang standar mana yang benar atau salah tergantung darimana menentukannya. Tidak ada kebenaran absolut. Apa yang dianggap benar dan baik pada suatu saat, dapat dianggap salah dan tidak baik di saat yang lain. Oleh karena itu, ilmuwan muslim yang mengikuti pola pikir ilmuwan barat tidak menyadari atau tidak mau mengakui bahwa seharusnya mereka memberikan penilaian dengan menggunakan standar atau patokan agama Islam, mana yang benar dan yang mana yang salah. Ilmuwan muslim harusnya memberikan penerangan kepada semua orang tentang apa yang benar dan apa yang salah dan selalu berusaha melakukan amar ma’ruf nahi munkar.
            Ilmu menghasilkan teknologi yang akan diterapkan pada masyarakat. Teknologi dalam penerapannya dapat menjadi berkah dan penyelamat bagi manusia, tetapi juga bisa menjadi bencana bagi manusia. Disinilah pemanfaatan pengetahuan dan teknologi harus diperhatikan sebaik – baiknya. Dalam filsafat penerapan teknologi meninjaunya dari segi aksiologi keilmuan.
            Adapun salah satu sendi masyarakat modern adalah ilmu dan teknlogi. Kaum ilmuwan tidak boleh picik dan menganggap ilmu ilmu dan teknologi itu alpha dan omega dari segala-galanya, masih terdapat banyak lagi sendi-sendi lain yang menyangga peradaban manusia yang baik. Demikian juga masih terdapat kebenaran-kebenaran lain di samping kebenaran kebenaran keilmuan yang melengkapi harkat kemanusiaan yang hakiki. Namun bila kaum ilmuwan konsekuen dengan pandangan hidupnya, baik secara intelaktual maupun secara moral, maka salah satu penyangga masyarakat modern itu kan berdiri dengan kukuh. Berdirinya piral penyangga keilmuan ini merupakan tanggung jawab social seorang ilmuan. Kita tidak bisa lari padanya sebab hal ini merupakan bagian dari hakikat ilmu itu sendiri. Biar bagaimanapun kita tidak akan pernah bisa melarikan diri dari diri kita sendiri.


Etika dan tanggung jawab Ilmu Pengetahuan
            Perkembangan ilmu pengetahuan telah berhasil menyediakan segala kebutuhan hidup sehari-hari manusia dan mendorong pergeseran moralitas dan kehidupan manusia. Kondisi yang demikian diiringi dengan perkembangan mentalitas dan sikap manusia yang makin materialistis. Cukup sandang pangan bukan lagi menjadi arah kegiatan untuk mencapai kebahagiaan hidup, tetapi arah tersebut telah bergeser untuk mengumpulkan kekayaan dan harta sebanyak-banyaknya. Kebahagiaan manusia telah berubah menjadi berlimpahnya barang nyata yang berupa limpahan materi.
            Manusia memang berperawakan labil, sehingga dengan adanya kemajuan teknologi, manusia mengalihkan perannya dari “alat hidup” menjadi “tujuan hidup”. Harta (uang) menjadi segala-galanya bagi manusia. Bahkan tak jarang manusia terseret dalam keampuhannya, sehingga tingkah laku tamak, serakah, zalim dan sebagianya mewarnai jiwa setiap manusia. Kecenderungan ilmu pengetahuan yang tidak lagi sesuai dengan arti dan fungsinya tersebut, lebih dijunjung sebagai pengangkat “Dewa” martabat dan derajat pribadi manusia.
            Kondisi ini diperparah dengan kemajuan dunia yang memasuki era modernisasi dan globalisasi, yang mana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu cepat. Kejadian atau peristiwa yang terjadi dalam suatu belahan dunia, dalam hitungan detik dapat diketahui di belahan dunia lain dalam hitungan detik pula. Pengaruh gebyarnya kehidupan dapat memasuki ranah kehidupan wilayah lain dengan cepat dan tanpa ada sekat yang menghalangi. Globalisasi yang berorientasi pada kehidupan materialistis telah mendera hampir di seluruh aspek kehidupan sosial, budaya, ekonomi, hingga praktik politik-ketatanegaraan. Hal ini telah mendorong manusia untuk semakin mantap dalam mencapai “tujuan” hidup dengan mengumpulkan dan memanifestasikan kekayaan sebagai “tujuan” hidup. Manifestasi kehidupan tersebut antara lain ditandai dengan munculnya gagasan tentang perdagangan bebas lin¬tas negara di seluruh dunia, dimana prinsip-prinsip etika trading kuno telah dilepaskan yang ditandai dengan munculnya korporasi-korporasi multinasional.
            Salah satu contoh adalah berafiliasinya beberapa negara dalam sebuah organisasi ekonomi regional demi penguatan posisi tawar dalam percaturan ekonomi global (Uni Eropa, misalnya). Organisasi tersebut mampu memupusnya sekat-sekat geografis-politis yang tegas (deteritorisasi) dalam praktik-praktik interaksi sosial karena kemutakhiran teknologi (lahirnya gadget canggih dan koneksi internet dengan tingkat kecepatan tinggi yang memapankan industri media). Munculnya homogenisasi rancangan arsitektur bercorak Barat pada kota-kota besar di seluruh dunia, hingga industri pariwisata global yang memiliki efek diffusi (persebaran) kebudayaan serta meningkatnya konsumsi pada tataran global dan label. Dalam realitanya, globalisasi mampu menjadi penentu arah perkembangan ilmu pengetahuan manusia di dunia. Dalam lingkup sosio-kultural yang lebih sempit, salah satu implikasi globalisasi ialah munculnya pola-pola baru dalam beragam bentuk dan tatanannya. Corak-corak baru yang demikian kerap disebut sebagai era pascaindustri, pascamodern, ataupun postmodern. Keadaan masyarakat yang demikian memiliki konsekuensi logis pada situasi yang menggiring kita sebagai “warga dunia”, untuk berpikir, berkeputusan, hingga bertindak dalam ritme yang relatif cepat, praktis dan pragmatis.

Tanggung jawab ilmuwan sosial
            Ilmu menghasilkan teknologi yang akan diterapkan pada masyarakat. Teknologi dalam penerapannya dapat menjadi berkah dan penyelamat bagi manusia, tetapi juga bisa menjadi bencana bagi manusia. Disinilah pemanfaatan pengetahuan dan teknologi diperhatikan sebaik-baiknya.
            Dihadapkan dengan masalah moral dan ekses ilmu dan teknologi yang bersifat merusak, para ilmuwan terbagi kedalam dua golongan pendapat, yaitu : Golongan yang berpendapat bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik itu secara ontologism maupun aksiologi. Dalam hal ini ilmuwan hanyalah menemukan pengetahuan dan terserah kepada orang lain untuk mempergunakannya, apakah akan digunakan untuk tujuan yang baik ataukah untuk tujuan yang buruk. Golongan ini ingin melanjutkan tradisi kenetralan ilmu secara total, seperti pada waktu era Galileo. Golongan yang berpendapat bahwa netralisasi ilmu hanyalah terbatas pada metafisika keilmuwan, sedangkan dalam penggunaannya haruslah berlandaskan nilai-nilai moral.
            Golongan ini mendasarkan pendapatnya pada beberapa hal, yakni :
- Ilmu secara factual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia, yang dibuktikan dengan adanya dus perag dunia yang mempergunakan teknologi keilmuwan.
- Ilmu telah berkembang dengan pesat dan makin esoteric hingga kaum ilmuwan lebih mengetahui tentang ekses-ekses yang mungkin terjadi bila terjadi penyalagunaan.
- Ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaan yang paling hakiki seperti pada kasus revolusi genetika dan teknik pembuatan social.
            Proses ilmu pengetahuan menjadi teknologi yang dimanfaatkan oleh masyarakat tidak terlepas dari ilmuwan. Seorang ilmuwan akan dihadapkan pada kepentingan-kepentingan pribadi ataukah kepentingan masyarakat akan membawa pada persoalan etika keilmuwan sertamasalah bebas nilai. Fungsi ilmuwan tidak berhenti pada penelaahan dan keilmuwan secara individual namun juga ikut bertanggung jawab agar produk keilmuwannya sampai dan dapat dimanfaatkan masyarakat.
            Ilmuwan mempunyai kewajiban sosial untuk menyampaikan kepada masyarakat dalam bahasa yang mudah dicerna. Tanggung jawab sosial seorang ilmuwan adalah memberikan perspektif yang benar: untung dan rugi, baik dan buruknya, sehingga penyelesaian yang objektif dapat dimungkinkan.
            Dengan kemampuan pengetahuannya seorang ilmuwan harus dapat mempengaruhi opini masyarakat terhadap masalah-masalah yang seyogyanya mereka sadari. Dalam hal ini, berbeda dengan menghadapi masyarakat, ilmuwan yang elitis dan esoteric, dia harus berbicara dengan bahasa yang dapat dicerna oleh orang awam. Untuk itu ilmuwan bukan saja mengandalkan pengetahuannya dan daya analisisnya namun juga integritas kepribadiannya.
            Seorang ilmuwan pada hakikatnya adalah manusia yang biasa berpikir dengan teratur dan teliti. Seorang ilmuwan tidak menolak atau menerima sesuatu secara begitu saja tanpa pemikiran yang cermat. Disinilah kelebihan seorang ilmuwan dibandingkan dengan cara berpikir orang awam.Kelebihan seorang ilmuwan dalam berpikir secara teratur dan cermat inilah yang menyebabkan dia mempunyai tanggung jawab sosial. Dia mesti berbicara kepada masyarakat sekiranya ia mengetahui bahwa berpikir mereka keliru, dan apa yang membikin mereka keliru, dan yang lebih penting lagi harga apa yang harus dibayar untuk kekeliruan itu.
            Dibidang etika tanggungjawab sosial seseorang ilmuwan bukan lagi memberi informasi namun memberi contoh. Dia harus tampil didepan bagaimana caranya bersifat obyektif, terbuka, menerima kritikan, menerima pendapat orang lain, kukuh dalam pendirian yang dianggap benar dan berani mengakui kesalahan. Tugas seorang ilmuwan harus menjelaskan hasil penelitiannya sejernih mungkin atas dasar rasionalitas dan metodologis yang tepat.
            Seorang ilmuwan secara moral tidak akan membiarkan hasil penelitian atau penemuannya dipergunakan untuk menindas bangsa lain meskipun yang memepergunakan bangsanya sendiri. Sejarah telah mencatat para ilmuwan bangkit dan bersikap terhadap politik pemerintahnya yang menurut anggapan mereka melanggar asas-asas kemanusiaan.
            Pengetahuan merupakan kekuasaan, kekuasaan yang dapat dipakai untuk kemaslahatan manusia atau sebaliknya dapat pula disalagunakan. Untuk itulah tanggung jawab ilmuwan haruslah “dipupuk” dan berada pada tempat yang tepat, tanggung jawab akademis dan tanggung jawab moral.
Intelektual dan Keilmuan          
            Kalau seorang ilmuwan berkutat hanya pada bidang ilmu pengetahuan yang digelutinya, dan yang karenanya terkesan sangat
terspesialisasi, tinggi dan tidak mengakar pada realitas sosial-budaya masyarakat dimana ia berada; saya rasa itulah ilmuwan yang benar. Tugas dan tanggung-jawab seorang ilmuwan pada hakekatnya adalah mengembangkan bidang ilmu pengetahuan yang digelutinya.
            Ada pun tugas untuk menerapkan atau membumikan ilmu pengetahuan itu agar bermanfaat bagi orang banyak, adalah tanggung jawab orang lain. Ia bisa menjadi tugas seorang teknolog, birokrat, atau–kalau mereka punyak “otak”–politisi.
            Kalau seorang ilmuwan–disamping tugas dan tanggung jawabnya mengembangkan bidang ilmu pengetahuan yang digelutinya–menaruh perhatian yang tulus, mendalam dan luas terhadap masalah-masalah sosial-budaya masyarakat dimana ia berada, maka itulah yang kita namakan intelektual.
            Andrei Sakharov–ilmuwan fisika Rusia–yang menaruh perhatian terhadap masalah-masalah demokrasi dan hak asasi manusia di Uni Soviet, adalah seorang intelektual. Dr. T. Yacob–ilmuwan antropologi ragawi–yang menaruh perhatian terhadap masalah-masalah kebudayaan di Indonesia, adalah seorang intelektual.
            Ada ilmuwan yang bisa dikategorikan sebagai intelektual. Tapi tidak semua ilmuwan–dan memang tidak harus–dikategorikan sebagai intelektual.
            Intelektual adalah seseorang yang menaruh perhatian yang tulus, mendalam dan luas terhadap masalah-masalah sosial-budaya masyarakat dimana ia berada. Disini perlu diberi penekanan terhadap kata “tulus”, karena tidak semua orang yang menaruh perhatian terhadap masalah-masalah sosial-budaya masyarakat boleh dikategorikan sebagai intelektual.

Tanggung jawab ilmuwan Muslim
1 Banyak ilmuwan muslim (terutama dalam hal ini yang akan dibahas adalah berkaitan dengan ilmuwan muslim di bidang sosial) yang tidak memiliki komitmen terhadap agama Islam.
            Ilmuwan tersebut menghabiskan hari-harinya dan bahkan hidupnya untuk mempelajari dan mengkaji ilmu yang disenangi, menarik hati dan mungkin pula memperoleh ketenaran serta mendapatkan bnyak uang, tapi tidak berminat atau kurang sekali minatnya untuk mengkaji Islam (Al-Quran dan Sunnah) yang berkaitan dengan ilmu yang digelutinya. Dalam sepekan belum tentu ada satu atau dua jam waktunya diperuntukkan untuk menelaah Islam, yang seharusnya menjadi pedoman hidupnya.
            Oleh karena itu, tidaklah mengherankan ketika mendapati ayat-ayat Al-Quran atau Hadits yang tidak sesuai dengan jalan pikiran atau ilmu yang dikuasai, maka ayat dan hadits tersebut ditolak atau paling tidak diragukan kebenarannya. Sebaliknya, paham atau konsep yang jelas-jelas bertentangan dan tidak dapat dibandingkan dengan Islam seperti feminisme, sekularisme, humanisme, liberalisme, postmodernisme, pluralisme dsb. malah dicari-carikan pembenaran dan dukungan dari agama Islam.

2. Banyak ilmuwan muslim yang berpikir dengan metode/cara berpikir orang barat yang kafir.
            Mereka memisahkan antara agama dan akhirat, antara ilmu dan perilaku, antara ilmu dan etika, antara agama dan ilmu, antara individu dan masyarakat nantara agama dengan sosial atau negara. Hal ini disebabkan karena mereka asal ikut saja terhadap pendapat yang dikatakan oleh pakar dari barat. Akibatnya mereka tidak akan dapat melebihi orang barat. Mereka akan selalu tergantung dengan barat serta pola berpikirnya. Apa-apa yang tidak sesuai dengan cara berpikir orang barat akan dikritik, diragukan atau bahkan ditolak.

3. Banyak ilmuwan yang tidak paham sejarah barat dan sejarah pemikiran orang-orang besar.

            Semestinya orang yang belajar sains sosial memahami mengapa timbul teori atau ide dari para ahli sosial zaman dahulu sejak zaman Yunani, zaman Renaissance sampai sekarang. Ingat bahwa pendapat sesorang pasti berkaitan dengan:

- Teologi agama Kristen di Barat
- Peran gereja di masyarakat pada masa itu
- Perang antar negara
- Kolonialisme
- Kebutuhan sosial masyarakat pada masa itu.

4. Karena tidak paham sejarah barat, banyak ilmuwan yang terjebak cara berpikir orang barat.

            Misalnya, banyak orang amat menyukai atau positivisme, reduksionisme, behaviorisme. Sebaliknya ada juga yang amat tidak suka dengan positivisme, sebagai gantinya mereka menganut hermeneutika atau kontruktivisme dll, sehingga semuanya dianggap relatif, tidak ada kebenaran absolut, bahkan manusia tidak mungkin memahami kebenaran atau kebenaran itu sendiri tidak ada. Namun mereka tidak paham mengapa timbul aliran-aliran tersebut dan latar belakang aliran pemikiran tersebut. Paham seperti humanisme, relativisme, pluralisme inklusivisme, liberalisme, demokrasi, HAM, feminisme, post-modernisme, sinkretisme dsb. telah menjadi anutan dan patokan mereka. Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi, sebagian ilmuwan muslim tidak menyadari pola pikirnya telah terjebak dan tersumbat dengan paham-paham sesat dari barat tersebut.

5. Banyak ilmuwan muslim tidak paham konsep pandangan dunia (worldview), asumsi hakikat                                    manusia maupun nilai-nilai sosial budaya barat.

            Nilai-nilai sosial budaya barat itu sendiri meliputi: tujuan hidup manusia, apa yang disebut manusia sukses, berguna dan baik, apa yang disebut masyarakat yang baik, dsb. Hal ini menyebabkan mereka hanya mengekor saja apa yang dikatakan atau ditulis orang barat. Banyak orang terpesona dan terkagum-kagum dengan "kemajuan" barat. Barat dianggap identik dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, pendidikan, kesehatran, kebebasan dan demokrasi.
            Namun jangan lupa, untuk meraih itu semua, barat harus menguras habis sumber daya yang dimiliki masyarakat lain sejak zaman dulu (kolonial) hingga sekarang, dengan perusahaan multi nasional (MNC) nya. Disamping itu, problem internal masyarakat barat semakin akut dan kronis. Meningkatnya jumlah orang yang depresi, stres, bunuh diri, pembunuhan, perampokan, pnyalahgunaan obat-obatan, pemerkosaan, perceraian, anak lahir di luar nikah, gay, lesbian dan semua penyakit sosial lain yang mengarah pada kehancuran peradaban dan masyarakat baat itu sendiri. Gereja-gereja semakin ditinggalkan, beralih pada fan lun gong, new age, spiritualisme, aliran pemuja setan, sinkretisme serta menciptakan agama-agama baru sesuai selera mereka sendiri.

6. Akhirnya banyak ilmuwan muslim yang tidak peduli apakah ilmu yang digelutinya ini benar/salah, sesuai dengan ajaran Islam/tidak.
            Menurut metode pendidikan model barat, tidak layak seorang ilmuwan memberikan penilaian benar atau salah terhadap apa yang dipelajarinya. Ilmuwan hanya menjelaskan fenomena yang terjadi atau konsep dan teori yang ada atau melakukan tinjauan kritis terhadapnya dan kemudian bila mampu, membangun pendapatnya sendiri. Namun tentang standar mana yang benar atau salah tergantung darimana menentukannya. Tidak ada kebenaran absolut. Apa yang dianggap benar dan baik pada suatu saat, dapat dianggap salah dan tidak baik di saat yang lain. Oleh karena itu, ilmuwan muslim yang mengikuti pola pikir ilmuwan barat tidak menyadari atau tidak mau mengakui bahwa seharusnya mereka memberikan penilaian dengan menggunakan standar atau patokan agama Islam, mana yang benar dan yang mana yang salah. Ilmuwan muslim harusnya memberikan penerangan kepada semua orang tentang apa yang benar dan apa yang salah dan selalu berusaha melakukan amar ma’ruf nahi munkar.
            Ilmu menghasilkan teknologi yang akan diterapkan pada masyarakat. Teknologi dalam penerapannya dapat menjadi berkah dan penyelamat bagi manusia, tetapi juga bisa menjadi bencana bagi manusia. Disinilah pemanfaatan pengetahuan dan teknologi harus diperhatikan sebaik – baiknya. Dalam filsafat penerapan teknologi meninjaunya dari segi aksiologi keilmuan.
            Adapun salah satu sendi masyarakat modern adalah ilmu dan teknlogi. Kaum ilmuwan tidak boleh picik dan menganggap ilmu ilmu dan teknologi itu alpha dan omega dari segala-galanya, masih terdapat banyak lagi sendi-sendi lain yang menyangga peradaban manusia yang baik. Demikian juga masih terdapat kebenaran-kebenaran lain di samping kebenaran kebenaran keilmuan yang melengkapi harkat kemanusiaan yang hakiki. Namun bila kaum ilmuwan konsekuen dengan pandangan hidupnya, baik secara intelaktual maupun secara moral, maka salah satu penyangga masyarakat modern itu kan berdiri dengan kukuh. Berdirinya piral penyangga keilmuan ini merupakan tanggung jawab social seorang ilmuan. Kita tidak bisa lari padanya sebab hal ini merupakan bagian dari hakikat ilmu itu sendiri. Biar bagaimanapun kita tidak akan pernah bisa melarikan diri dari diri kita sendiri.






















































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar